Sekelumit Romantika Keluarga

Saturday, July 22, 2006

Janji Terpatri untuk Diingkari

BAGAIMANA rasanya dikhianati oleh orang yang sangat dicintai, mungkin tak mudah melukiskannya. Angan dan cita yang tinggi mengawang diempaskan oleh kekecewaan. Saya mungkin salah seorang dari sekian banyak orang yang pernah dikhianati pasangan hidupnya.

Saya seorang gadis bernama Sariniati (24 tahun) yang dibesarkan dalam keluarga sederhana. Hidup senang apalagi mewah belum pernah saya alami. Namun kami sekeluarga hidup cukup bahagia. Karena keadaan orang tuaku yang serba paspasan, kami anak-anaknya harus puas hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMA saja. Kalaupun saya disuruh kuliah karena ibu menyayangkan hasil ujian saya yang cukup bagus. Lagi pula karena saya anak paling kecil, jadi tak ada lagi yang harus disekolahkan oleh ayah dan ibu.

Mungkin karena keadaan yang serba morat-marit, saya termasuk anak yang minder. Kalau gadis-gadis lain kuliah dengan pakaian yang bagus dan peralatan yang canggih, saya nyaris hanya berganti baju seminggu dua kali. Kadang-kadang karena sepatu sudah sangat jelek saya terpaksa duduk, tidak ikut berjalan-jalan atau ngobrol dengan teman-teman. Apalagi bila melihat mereka jajan di kantin atau di kafe yang letaknya dekat dengan kampus. Saya hanya memandang dengan mata penuh perasaan ingin seperti mereka.

Banyak di antara teman yang menambah ilmunya dengan berbagai kursus, karena orang tua mereka mampu membiayainya. Sementara saya harus tahu diri, jangankan untuk kursus atau uang jajan, sekadar uang kuliah dan ongkos jalan pun sangat seret.

Orang tua saya sudah membanting tulang mencari nafkah, namun kami tetap hidup dalam kemiskinan. Keadaan ini memicu saya untuk terus belajar dengan giat. Namun bagaimana mungkin bisa belajar sebaik-baiknya bila tak ada selembar buku pun yang dibeli. Hanya mengandalkan catatan kuliah tak mungkin bisa membuat saya menjadi seorang mahasiswa yang cemerlang.

Kadang-kadang saya pergi kuliah dengan berjalan kaki karena tak ada sepeser pun uang pada orang tua kami. Pulangnya saya hanya bisa berbaring kelelahan. Jarak tempuh dari rumah sampai tempat kuliah sekitar lima kilometer. Betapa pegal dan penatnya seluruh kaki.

Dalam keadaan serba susah persoalan sering muncul. Sehingga mengakibatkan seisi rumah sering terlibat cekcok untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsipil. Namun itu membuat saya menjadi terganggu.

Kuliah yang hanya bermodalkan catatan dengan perut keroncongan dan kaki yang penat ditambah keadaan seperti itu membuat hati saya semakin terpuruk. Ingin rasanya saya berhenti kuliah saja. Tetapi melihat keinginan orang tua kami yang begitu kuat, tak tega rasanya saya mengemukakan keprihatinan ini. Saya mencoba ceria dan menyembunyikan segala kepedihan ini.

Keadaan seperti ini rupanya terjadi pula pada kakak-kakak saya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dengan pria yang dicintainya. Meskipun kini tanggungan orang tua tinggal saya, keadaan ekonomi tetap tidak berubah. Bahkan rasanya semakin terpuruk.

Kehadiran seorang pria yang memberi perhatian lebih pada saya membuat hati ini terkejut. Memang selama ini banyak pria yang menaruh hati pada saya. Meski mereka sampaikan melalui teman-teman. Karena kebetulan anak-anak Ibu semua berparas cantik. Teristimewa kami semua dikaruniai mata yang bagus. Begitu kata orang-orang.

Tetapi saya tidak pernah berani menerima cinta salah satu dari mereka. Saya malu bila mereka ingin berrpacaran dengan saya, mau saya bawa ke mana. Ke rumah orang tua yang tinggal di gang kecil dan kumuh, sementara mereka tampaknya orang-orang berada. Semakin banyak orang yang menyatakan jatuh cinta, semakin saya mengucilkan diri. Saya tidak berani berpacaran dengan orang kaya karena takut mereka kelak akan menghina keluarga saya.

Namun laki-laki yang satu ini tampaknya tidak berputus asa. Ia terus mengejar saya. Setiap pulang kuliah saya selalu dicegatnya di gerbang kampus. Berkali-kali saya menghindar, namun ia selalu mendapatkan saya.

Suatu ketika saya tak bisa menghindar lagi. Ia memergoki saya sedang bersembunyi di belakang tukang jualan makanan. Di situ dia mulai mengumbar rayuannya. Saya yang seumur hidup belum pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran tak mengerti bahwa perkataan pria belum tentu benar. Saat itu saya mengira ia seorang laki-laki yang baik dan benar-benar tertarik pada saya. Ketika ia menyebutkan bahwa perempuan secantik saya tidak pantas jalan kaki, saya hanya menunduk sedih. Mungkin setelah ajakannya yang kesekian kali, barulah saya mau diajak naik mobilnya. Itu pun hanya sampai jalan besar tak jauh dari mulut gang tempat saya tinggal.

Tak saya mungkiri dalam hati ia sudah mulai memengaruhi saya. Saya pun jatuh cinta padanya. Saat itu meski dengan susah payah saya sudah kuliah semester lima. Setelah kejadian itu saya benar-benar menjauhi pria tersebut. Saya tak ingin cinta ini terus berlanjut apalagi sampai jenjang pernikahan. Sekali lagi saya takut keluarga kaya itu kelak akan menghina keluarga kami.

Namun betapa kagetnya ketika suatu malam ia datang bertamu ke rumah kami. Ayah saya juga kaget ketika ia datang dengan sopan dan mengatakan ingin bertemu saya. Kami mengobrol sampai satu-dua jam. Setelah pulang ayah dan ibu menanyakan siapa dia. Ketika saya jawab dengan terus terang beliau berdua hanya termangu.

Tetapi ketika minggu berikutnya ia datang lagi beliau berdua sudah mulai terbiasa. Apalagi setelah ia memperlihatkan perhatiannya kepada saya. Misalnya dengan membelikan saya sepatu, baju bahkan uang untuk keperluan sehari-hari. Ia menunjukkan rasa simpatinya yang dalam. Tak ada sedikit pun wajah yang menghina kepada keluarga kami.

Saya akhirnya luluh melihat keseriusan dia. Apalagi waktu saya katakan bahwa saya tak mungkin menikah dengan dia karena perbedaan status sosial ekonomi kami yang sangat berjauhan. Jawabannya sangat membesarkan hati.

"Yang akan menikahimu adalah saya, bukan orang tua saya. Begitu menikah kita berumah tangga, langsung mandiri. Tidak akan bercampur baur dengan keluarag saya." Dan ia pun bersabar menunggu saya selesai kuliah.

Namun apa yang dikatakannya hanyalah omongan seorang yang ingin menikmati diri saya. Sebenarnya cintanya tidaklah semurni yang saya duga.

Suatu malam dia mengajak saya menonton. Pulangnya saya diajak ke restoran, makan dan minum. Ketika akan pulang dia tidak langsung ke arah rumah saya tapi katanya ingin mengambil sesuatu di rumah saudaranya. Saya tiba-tiba merasa pusing. Mungkin minuman itu belum pernah saya kenal sehingga saya benar-benar tidak ingat apa-apa lagi. Saya baru menyadari setelah segalanya terjadi.

Apa yang saya junjung tinggi selama ini hancur berkeping-keping pada malam itu. Dia minta maaf. Katanya tidak berniat berbuat demikian, tapi karena sangat cintanya pada saya. Saya benar-benar marah. Dan besoknya ketika ia datang minta maaf, saya tetap bersikukuh memutuskan hubungan dengannya.

Namun apa hendak dikata. Kejadian malam itu membuahkan janin di perut saya. Betapa hancurnya hati saya. Padahal selangkah lagi saya akan menyelesaikan ujian kesarjanaan saya. Bertahun-tahun saya jalani dengan hati sedih dan perjuangan yang keras. Didorong cinta dan air mata ibu, saya mencoba menggapai gelar itu, tapi pria tersebut telah mencampakkan segalanya.

Ia memang bertanggung jawab dan menikahi saya. Saya pun diboyong ke rumah mertua. Apa yang dulu saya takutkan ternyata terjadi juga. Semua memandang rendah kepada saya. Kecuali ayahnya. Tapi sayang ayahnya sudah tidak berdaya dan tidak punya apa-apa lagi.

Kelahiran anak saya disambut derai airmata kesedihan oleh seluruh keluarga. Betapa tidak, kami tinggal di tempat yang mewah, tetapi kehidupan kami berdua tak ubah bagai orang yang numpang tinggal. Keadaan semakin menyedihkan ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri dia membawa perempuan lain ke rumah besar itu. Tanpa berbicara apa-apa lagi, saya langsung pulang ke rumah ibu membawa bayi saya. Dan saya menyatakan minta cerai saat itu juga.

Tapi apa yang ia katakan, "Boleh saja, tetapi biayanya tanggung sendiri" katanya. Pembaca yang budiman, saya mohon pertolongan untuk mendapatkan uang sebesar satu juta rupiah untuk biaya perceraian, agar saya mendapat status yang jelas. Saya ingin bekerja atau bersuami lagi dengan pria yang benar-benar mencintai saya dan bertanggung jawab.

Ya Allah tolonglah hambamu ini.